Umar Juoro: Tak Jadi Fisikawan, Sukses Jadi Ekonom

Banyak orang bertanya-tanya ketika mengetahui bahwa Umor Juoro yang dikenal sebagai pengamat ekonomi itu ternyata seorang sarjana Fisika jebolan ITB. Demikianlah adanya. Publik terlanjur mengenal Umar Juoro sebagai ekonom. Lantaran itu, banyak orang menyangka ia adalah lulusan Fakultas Ekonomi. Termasuk, kalangan jurnalis di negeri ini yang sering meminta analisisnya. Selain sebagai cendekiawan, Umar yang pernah menjadi anggota Dewan Pakar ICMI itu kini juga tercatat sebagai Komisaris Bank Internasional Indonesia.

Perguruan tinggi adalah wahana pengembangan kapasitas keilmuan, keahlian, dan menjadi model bagi pelembagaan tradisi intelektual para mahasiswanya. Bagi yang tanggap dengan pesan esensial pendidikan ini, berbagai pilihan hidup akan terbuka lebar ketika seorang mahasiswa memasuki era pasca-kuliah: menjadi akademisi, profesional, bahkan mendalami bidang lain di luar studi yang ia pilih pada saat belajar di kampus.

Umar Juoro mengerti benar apa alasan ia masuk ke Fakultas MIPA ITB. Setelah lulus pada 1985, ia lantas bekerja pada sebuah perusahaan consultant engineering di bidang seismik selama kurang lebih satu tahun. Namun, ketertarikan Umar terhadap bidang ekonomi dan public policy tak bisa ia bendung menyusul beasiswa yang ia terima untuk mengikuti program master di bidang ekonomi politik. Meskipun untuk itu ia harus belajar keras, Master of Arts in Economics dari University of Philippines berhasil ia raih pada tahun 1987.

Empat tahun berikutnya, 1991, Umar meraih gelar MA di bidang ekonomi politik dari Boston University, AS. Dan, pada 1993, ia kembali meninggalkan Tanah Air untuk mendalami bidang ekonomi internasional di Kiel Institute of World Economics, Jerman. Lengkap sudah bekal Umar Juoro untuk menjadi seorang ekonom.

Pada semester-semester awal Umar masuk kuliah, situasi nasional berada dalam kondisi “memanas” akibat berbagai kebijakan rejim Orde Baru—kebijakan investasi, luar negeri, NKK-BKK, dan lain-lain— yang memicu banyak kontroversi. Senat Mahasiswa ITB, sebagaimana organisasi kemahasiswaan intra-kampus di berbagai kota, melihat kenyataan ini sebagai problem besar yang harus direspons dan disikapi. Kritisisme pun berkembang di ITB.

Dari sisi subjektif mahasiswa, situasi eksternal kampus itu, apalagi menyangkut nasib bangsa, juga merupakan kesempatan untuk melakukan intelectual-social exercise. Jadilah, atmosfir di kampus ITB kian marak dengan berbagai aktivitas demonstrasi, seminar, atau memublikasikan pernyataan sikap. Di dalam pusaran dinamika aktivisme mahasiswa seperti itulah Umar selama kuliah berada.

Benar. Menurut pria kelahiran Solo, 6 Desember 1959, banyak hak yang didapat di luar teks-teks buku kuliah. “Faktor pergolakan di kampus pada tahun 1978 membuat kami mahasiswa ITB sangat familiar dengan isu-isu nasional. ITB memberikan dan membuka cakrawala jauh lebih luas dari sekadar bidang studi yang digeluti para mahasiswanya. Terbukti, saya sekarang berkecimpung di dunia ekonomi,” tutur Umar. “Sebenarnya saya sangat tertarik dengan fisika dan dinamika politik, sebelum ekonomi. Sejak SMA sudah tertarik dengan isu-isu besar. Sedangkan secara akademik, saya suka Fisika,” kata suami Juliana itu menambahkan.

Pergumulan Umar di organisasi intra-kampus, kala itu, adalah momentum pematangan intelektualnya. Di era ketika Umar menjadi aktivis kampus—sehingga pada semester IV ia bersama Hendardi sudah digelar MSc: bukan Master of Science melainkan “Master of Student Center”, karena sangat aktif di pusat kegiatan mahasiswa itu. Di sana pula berkantor Sekretariat Dewan Mahasiswa. Aktif di Student Center membuat Umar semakin akrab dengan nomenklatur ekonomi dan politik.

Pilihan Umar untuk tak menekuni dunia fisika juga dilandasi oleh perhitungan pragmatis. Sejak di tingkat dua, Umar sudah ancang-ancang untuk mempersiapkan diri kelak terjun di dunia yang tidak berkaitan langsung dengan Fisika. “Mungkin saya akan menjadi biasa-biasa saja jika berkiprah di jalur Fisika karena banyak sekali teman sejurusan yang luar biasa pintar. Saya bukan tergolong pintar di dunia fisika,” ungkap ayah Jose Akbar Juoro dan Juan Ahmar Juoro sembari senyum simpul.

Pilihan Umar tidak salah. Berbagai peran sebagai seorang ekonom telah ia lakoni. Ia pernah dipercaya Presiden Habibie sebagai Asisten Wakil Presiden/Presiden RI BJ Habibie khusus Bidang Ekonomi, Keuangan dan Industri (1998-1999), Direktur Center for Information and Development Studies (CIDES) sejak 1999. Umar juga pernah menjabat sebagai Staf Ahli Komisi VIII DPR-RI pada 2002, dan Anggota Tim Masyarakat Madani yang dibentuk oleh Presiden RI pada tahun 1999.

Sebagai figur publik, Umar tak tergoda untuk terjun ke dunia politik, seperti beberapa sejawat ekonom lainnya, seperti Didik J Rachbini, yang kini menjadi anggota DPR. “Saya merasa lebih full potencial di jalur eksekutif daripada jalur legislatif,” ungkap Umar menjelaskan alasan mengapa ia tak kunjung terjun ke

ITB tidak salah mendidik Umar, tentu saja. Toh kembaran dari Amir Sambodo, yang juga masuk Teknik Mesin ITB di tahun yang sama, bukan ekonom kelas dua hanya karena ia bukan lulusan Fakultas Ekonomi. Statemen-statemen dan tulisan Umar yang berkaitan dengan masalah ekonomi nasional senantiasa kritis dan menjadi pertimbangan berbagai pihak di negeri ini.

Semua itu tumbuh semakin bagus selama Umar belajar di ITB. Ia kian terlatih menuangkan buah pikirannya ke dalam tulisan—hal yang tidak selalu dimiliki seorang bergelar doktor sekalipun. Pada semester dua misalnya, ia telah menulis di sejumlah media massa, seperti Pikiran Rakyat, bahkan harian Kompas— tulisan pertama tahun 1979 di halaman 4 dengan tema: Tantangan Pembangunan Perdesaan. Lebih bergengsi lagi, pada tahun kedua kuliah di ITB artikel Umar terpajang di Jurnal Prisma, sebuah jurnal ilmiah terkemuka ketika itu hingga awal dekade 1990-an. Dari sana, kemudian Umar berkenalan dengan para intelektual yang juga berlatar belakang aktivis seperti Dawam Rahardjo, Fachry Ali dan Didik J. Rachbini, untuk sekadar menyebut beberapa.

Dalam konteks pembentukan karakter mahasiswa, menurut Umar, ITB jauh lebih mengesankan bila dibandingkan dengan kampus-kampus di Filipina atau Jerman. “Saya mengalami suasana kuliah di beberapa kampus di beberapa negara. Tapi, yang paling berkesan ya di ITB,” kata bekas ketua OSIS SMA 9, Bulungan, itu.

Berbagai kisah sedih dan lucu tergores di kampus ITB tercinta. Umar pernah, misalnya, diisukan telah memanfaatkan kembarannya, Amir, untuk mengerjakan ujian ulang (HER) mata kuliah kimia yang sebelumnya tidak lulus. Di daftar nilai yang terpampang nilainya ditutup dengan tip-eks. “Saya klarifikasi dong. Saya curiga itu dilakukan oleh ‘lawan politik’ kami di kampus. Akhirnya, saya diminta cari saksi bahwa saya memang mengerjakan itu. Akhirnya, saya lulus juga. Itu sebuah pengalaman yang sangat lucu dan menjengkelkan,” kenang Umar sembari melepas tawa.

(dari hasil wawancara atas Umar Juoro di lobi Hotel Nikko, 2008)

Sumber : http://www.kalipaksi.com/2009/11/13/umar-juoro-tak-jadi-fisikawan-sukses-jadi-ekonom/index.html

This entry was posted in Tokoh and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *